Selasa, 12 April 2011

Jatuhnya Saipan

      Tetapi Saipan bukanlah seluruhnya terdiri dari pulau yang datar dan mudah ditempuh. Kontur pulau seluas 122 kilometer persegi ini banyak berbukit-bukit dengan berpuncak pada Gunung Tagpochau yang tingginya sekitar 460 meter. Di kawasan timur dan utara pulau tidak ada pantai datar, karena merupakan dinding terjal dan tinggi yang langsung membatasi pulau ini dengan laut.

 Letak Pulau Saipan di Kepulauan Mikronesia
       Tanah yang datar terdapat di bagian barat dan selatan, umumnya dimanfaatkan untuk perkebunan tebu. Pulau ini panjangnya 23 km dengan kelebaran maksimal hampir sembilan kilometer. Karena kontur yang cukup bergelombang itu, tidaklah mengherankan apabila pasukan penyerbu tidak mudah menguasai pulau ini. Jengkal demi jengkal, harus direbut dengan keringat dan darah. Setelah bertempur sengit selama delapan hari, barulah bagian bawah atau selatan dari pulau ini berhasil dikuasai pasukan Marinir.



 PETA Pulau Saipan
      Bagi penyerbu, sekalipun menghadapi perlawanan sengit dari musuh, namun mereka sebetulnya masih beruntung karena pasukan Jepang di Saipan hanya berjumlah 25.600 prajurit AD ditambah sekitar 6.000 pasukan AL. Panglima darat di pulau ini Letjen Yoshitsugu Saito tidak memperoleh tambahan pasukan seperti yang diharapkannya. penyebab utamanya karena mabes di Tokyo meskipun tahu serbuan AS ke Mariana bakal segera terjadi, namun tidak mengira akan dilakukan secepat itu. Apalagi Laksamana Nimitz ternyata menyerang Saipan terlebih dahulu dan bukannya Guam yang lebih dekat dengan posisi terakhir AS.
       Selain itu, kegiatan kapal-kapal selam AS di perairan sekitar Mariana menyebabkan operasi kapal transpor Jepang yang mengangkut pasukan maupun logistik ke Saipan dan pulau-pulau sekitarnya menjadi tidak mudah. Sehingga dalam beberapa bulan terakhir, Jenderal Saito harus menyiapkan pertahanan Saipan tanpa bantuan Tokyo.
 Pasukan Jepang di Saipan
      Panglima pasukan penyerbu, Letjend (Mar) Holland Smith memerintahkan pasukannya bergerak maju ke utara dalam formasi melebar sesuai bentangan lebarnya Saipan. Pasukan harus berjuang keras, bukan hanya terhadap perlawanan Jepang, namun juga rintangan alam. Di sebelah kiri atau barat, 2nd Marine Division harus melalui lereng pegunungan yang berat untuk merebut Gunung Tagpochau yang dipertahankan mati-matian oleh Jepang. Sebab walau tingginya tak lebih dari 500m, gunung ini amat strategis karena ketinggian dan letaknya yang sangat mendominasi pulau tersebut. Di sebelah kanan atau timur, 4th division bergerak ke utara, kemudian berbelok ke timur untuk merebut Semenanjung Kagman yang panjangnya sekitar lima kilometer.

Gelombang pertama Marinir mendarat di pantai Saipan 
      Sedangkan serbuan di tengah, diserahkan kepada dua resimen dari 27th Division dari AD AS yang melakukan pendaratan pada 16 Juni, menyusul pendaratan Marinir satu hari sebelumnya. Pada 23 Juni pasukan Marinir baik di kiri maupun kanan dengan cepat bergerak dan mencapai kemajuan yang cukup baik. Tetapi serangan di bagian tengah oleh pasukan AD berjalan lamban dan tersendat oleh perlawanan Jepang. Pasukan ini saat memulai gerakannya sudah terlambat dari waktu yang ditentukan. setelah maju pun geraknya makin pelan sampai akhirnya terhenti sama sekali. keadaan ini tentu membahayakan pasukan Marinir di posisi sayap kiri dan kanan yang telah maju lebih jauh, karena mereka menjadi terbuka terhadap serangan Jepang dari samping. Karena itu kedua pasukan Marinir menghentikan gerak maju mereka dan membuat pertahanan, sambil menunggu infanteri AD yang tertinggal di belakang.

Seorang Marinir memasuki Garapan melalui pintu gerbang Torii, Shinto 
      Mengetahui keadaan ini, maka Letjen (Mar) Holland 'Howlin Mad' Smith selaku panglima invasi pun naik pitam. Dia marah besar dan menganggap pasukan AD maupun komandannya tidak becus. Dia menegur keras panglima 27th Division Mayjen Ralph Smith dan menyatakan kekecewaan besar terhadap kinerja pasukannya. Ini bukanlah untuk pertama kalinya kedua jenderal itu berhadapan dalam suasana tidak nyaman. Sebelumnya Ralph Smith juga pernah didamprat Holland Smith yang memang dikenal gampang meledak, sehingga dijulukin 'Howlin' Mad' karena sifatnya itu. Peristiwa pertama terjadi pada serbuan terhadap Pulau Makin di Kepulauan Gilbert, November 1943, ketika pasukan AD dinilai Holland Smith terlalu lamban. Di sana ia juga marah besar terhadap Ralph Smith.
Letjend (Mar) Holland Smith 
      Setelah terkena marah, esok harinya 24 Juni pasukan 27th Division mulai bergerak lagi di front tengah Saipan. Namun selepas tengah hari, pasukan ini kembali tertahan, sementara kedua pasukan Marinir di sayap kiri dan kanan tetap menunggu dan tidak dapat maju. Di sinilah kemarahan Holland smith memuncak. Dia naik ke kapal tempur Indianapolis, yang merupakan kapal bendera Laksamana Raymond Spruance. kepada atasannya itu, smith mendesak agar Ralph Smith dicopot "karena ia kekurangan semangat agresif". "Divisinya menyebabkan kemajuan kita terhambat. dia harus dipecat". demikian penegasan Holland Smith.
      Spruance tidak bisa berbuat lain selain menyetujui desakan Holland Smith. Segera keluar keputusan memindahkan Mayjen Ralph Smith ke Hawaii, sebelum kemudian ditugaskan ke Eropa. Konflik antara kedua Smith itu menjadi kontroversi dan bahan perdebatan. banyak yang menganggap persoalannya bukanlah terletak pada Ralph Smith atau divisinya. Tetapi baik di Saipan maupun Makin, lambannya pasuka AD dibanding Marinir adalah akibat doktrin tempur mereka yang berbeda. Pada Korps Marinir ditanamkan doktrin harus bergerak cepat dan menguasai sasaran secepat mungkin, meski dengan korban besar di pihaknya. Sedangkan AD lebih terbiasa dengan gerak maju yang berhati-hati demi menekan jumlah korban mereka.
Mayjen Ralph Smith 
      Dengan pimpinan baru, pasukan AD digebrak untuk lebih cepat bergerak dan akhirnya mulai mampu menyamakan kecepatan langkahnya dengan Marinir di kedua sayapnya. Pada 6 Juli atau hari ke-22 sejak pendaratan pertama di Saipan, pasukan AS yang terus merayap ke utara berhasil merebut kota kecil Garapan serta Tanapag Harbor, yang oleh Jepang dijadikan pangkalan penting pesawat terbang amfibi. Sementara itu dari puncak gunung Tagpochau yang telah dikuasainya, pasukan Marinir leluasa mengamati sisa wilayah pertahanan Jepang yang semakin hari kian mengecil, surut ke arah utara.

Pasukan Jepang ini ditahan kemajuannya oleh Batalion Infanteri 105 di Tanapag, Pada 6 Juli
      Jenderal Saito kini menyadari pertahanan yang disusunnya tidak akan mampu menahan majunya musuh. Harapannya akan mendapat bantuan dari armada pimpinan Laksamana Jisaburo Ozawa telah sirna sesudah armada ini terpukul di pertempuran Laut Filipina 19-20 Juni. Sekalipun demikian, Saito tetap berusaha menggunakan kontur pegunungan di Saipan untuk bertahan. Gua-gua di sulapnya menjadi kubu pertahanan, dan ia menahan diri untuk tidak melancarkan serangan bunuh diri atau banzai attack secara dini.

Letjend Yoshitsugu Saito 
      Jenderal Jepang yang berasal dari Kavaleri ini juga banyak memanfaatkan mortir dan serangan balasan pada malam hari. Karena itu banyak korban di pihak AS akibat serangan mortir. Sebagai perbandingan, jika di Tarawa hampir 60% korban AS disebabkan oleh peluru senapan atau senapan mesin, maka di Saipan korban akibat mortir Jepang 65%, sedangkan karena peluru hanya 25%.
      Menyadari posisinya yang semakin terjepit, Saito mengirim kabar ke Tokyo. Kepada PM Hideki Tojo, ia minta tolong untuk menyampaikan permintaan maafnya kepada Tenno Heika, Kaisar Jepang, karena kegagalannya mempertahankan Saipan. Dia menyatakan kemenangan di Saipan tidak mungkin diraihnya karena udara dan laut dikuasai musuh sepenuhnya. Meskipun begitu ia berjanji untuk mempertahankan Saipan hingga tetes darah penghabisan.
      Kepala staf Saito, yaitu Mayjen Keiji Igeta juga mengisyaratkan akan terjadinya "serangan terakhir". Dia memerintahkan semua pasukan Jepang yang tersisa dikumpulkan untuk melakukan serangan pamungkas tersebut. "Marilah kita akhiri pertempuran ini ", kata Igeta, yang kemudian berkumpul bersama Letjen Saito dan Laksamana Chuichi Nagumo dalam rapat dengan para perwira staf lainnya. Nagumo adalah panglima laut yang memimpin armada Jepang dalam serangan terhadap Pearl Harbor. Dia dibuang ke Saipan setelah mengalami kekalahan dalam pertempuran laut di Midway.

Laksamana Madya Chuichi Nagumo 
      Kondisi Jenderal Saito sendiri menurut catatan perwiranya terlihat memprihatinkan. Tubuhnya sudah lemah, jenggotnya panjang tak terurus. Dalam rapat ini sekaligus diadakan rapat terakhir, dengan hidangan berupa daging kepiting kalengan, bola nasi serta minuman sake, arak Jepang. Di sinilah Saito menyatakan adanya pilihan, mati di dalam gua-gua pertahanan atau keluar menyerang musuh sampai mati. "Saya berdoa bersama kalian untuk keselamatan Tenno Heika dan kesejahteraan tanah air kita. Saya akan keluar mencari musuh-musuh kita. Ikutilah saya!"
      Pernyataan itu artinya Saito mengizinkan bahkan memerintahkan dilakukannya serangan berani mati atau banzai sebagai usaha terakhir untuk menahan dan memukul mundur musuh. Ketika itu pasukan Jepang yang tersisa masih sekitar 3.000 orang. Namun Letjen Saito nampaknya tidak mungkin untuk memimpin sendiri serangan banzai itu, karena kondisi raganya yang sudah lemah. Sewaktu ditanya oleh staf apakah Jenderal Saito dan Igeta akan ikut dalam serangan tersebut, maka Nagumo yang sedari tadi lebih banyak berdiam lalu menjawab, "Kami bertiga akan melakukan harakiri".
      Pada saat kritis itu, datang utusan dari pusat komunikasi yang membawa kabar dari Tokyo memerintahkan pasukan di Saipan untuk terus melanjutkan perlawanan guna mengulur waktu, dengan dijanjikan bala bantuan segera akan didatangkan. dengan kata lain, Tokyo tidak menginginkan serangan bunuh diri dilancarkan, karena hanya mempersingkat waktu kekalahan dan mengobral nyawa. Pasukan dari AL bersedia menerima perintah ini, tetapi AD menolak. "Anak panah telah dilepaskan." kata seorang perwira AD. Para perwira berdebat. AD menuduh AL pengecut. Nagumo, Saito dan Igeta tidak ikut dalam pembicaraan panas yang berlangsung hingga malam hari.
      Fajar 6 Juli, pasukan AS memulai lagi dengan bombardermen artileri maupun bom dari pesawat. Laporan dari pos penjagaan Jepang menyebutkan tank musuh mulai terlihat di atas tebing. Saito lalu memberi tahu stafnya, bahwa mereka bertiga telah memutuskan untuk berharakiri pada pukul 10 pagi itu. "Maafkan kami karena akan pergi mendahului," katanya. Mayor Takashi Hirakushi, perwira stafnya, lalu menyiapkan tempat tersendiri yang dirasa sesuai untuk upacara bunuh diri tersebut. Dia juga mencari asisten yang bersedia membantu proses mempercepat proses harakiri ketiga pemimpin agar mereka tidak terlalu menderita.
      Nagumo, Saito, dan Igeta mengenakan seragam warna khaki. Mereka duduk bersila. Di belakang mereka berdiri perwira pembantu dengan pistol masing-masing. Ketiga pimpinan tentara Jepang itu melakukan seppuku atau merobek perut mereka dengan pedang, lalu langsung disusul dengan tembakan pistol di bagian belakang kepala masing-masing. Ketiga jenazah akan dibakar, namun seorang perwira melarang karena asapnya akan menarik perhatian musuh. Karena itu pembakaran akan ditunda hingga menjelang tengah malam, sesaat sebelumserangan banzai dimulai.

 Marinir menemukan mayat Letnan Jenderal Yoshige Saito di sebuah gua di atas Tanapag di Saipan dan memberinya pemakaman dengan kehormatan militer penuh sesuai dengan kode Konvensi Jenewa

      Malam hari tiba. Para prajurit dan pelaut Jepang berkumpul, mengenakan seragam seadanya, banyak yang telah kumal dan compang-camping. Mereka membawa senjata seadanya, dari senapan, pistol, granat tangan, pedang, hingga bambu runcing. Mereka dibagi kelompok-kelompok oleh para perwiranya. Menjelang tengah malam, ketiga jenazah pemimpin dibakar bersama panji-panji kemiliteran mereka. Setelah itu tanpa banyak suara, mereka meninggalkan markas dan menuruni perbukitan terjal untuk menyerang musuh.
      Tatkala fajar tiba, pasukan AS sontak dikejutkan oleh serangan banzai, yang dilancarkan ribuan pasukan Jepang. Ini akan menjadi serangan berani mati yang paling besar selama Perang Pasifik. Dibuat mabuk lebih dulu oleh sake, mereka menyerbu sambil meneriakkan yel-yel pertempuran terhadap posisi pasukan AD AS dari 27th Division. Tidak menyangka akan ada serangan semacam itu, pasukanAS pun keteteran. Pasukan dari dua batalion infanteri 105th Regiment porak poranda tidak mampu lagi menahan serangan banzai Jepang. Komandan 1st Battalion Letkol William O'Brien tewas ketika mencoba menembaki penyerbu dengan senapan mesin berat dari jip.
      Sersan Thomas Baker dari batalion yang sama terluka. Tatkala rekan-rekannya mengundurkan diri, ia minta disandarkan di pohon dengan pistol berisi penuh sebagai senjatanya. Esoknya ia ditemukan telah tewas, namun di sekitarnya juga terdapat tubuh tak bernyawa dari delapan tentara Jepang. Seorang prajurit AS menggambarkan serangan banzai ini seperti adegan film koboi, ketika kamera yang ditanam merekam ratusan sapi yang berderak-derak berlari di atasnya lalu lenyap. " Hanya saja dalam serangan ini Jepangnya terus menerus datang tanpa henti. Saya tak berpikir mereka akan berhenti," katanya.
      Hebatnya pertempuran ini juga terlihat dari mayat pasukan banzai yang bertumpuk menghalangi pandangan senapan mesin AS, sehingga membuatnya setiap kali harus berpindah tempat tembak. Bahkan pasukan Jepang yang membanjir, juga harus naik ke tumpukan mayat rekannya untuk bisa naik terus. Pasukan Marinir yang juga diserang terpaksa menembakkan Howitzer 105mm dari jarak dekat untuk membuyarkan serbuan berani mati itu. Di antara para penyerang nekat itu, terdapat banyak yang siang hari sebelumnya masih terbaring sebagai pasien di tempat perawatan militer. Banyak dari mereka masih berbalut perban, memakai tongkat penyangga dan sebagainya. Ketika kemudian dilakukan pembersihan seusai pertempuran, didapati lebih 3.000 mayat pasukan Jepang di kawasan pantai sekitar Tanapag.

 Operasi pembersihan oleh 27th Division paska serangan banzai

      Di kota pelabuhan Tanapag, pasukan AS harus bertempur dari rumah ke rumah untuk menguasai kembali tempat tersebut. Tank-tank didatangkan untuk membantu. Namun tidak semua pasukan berani mati Jepang itu tewas. Mayor Hirakushi, perwira staf markas Letjen Saito ketika tersadar menemukan dirinya telanjang di bawah selimut, dengan tangannya terikat di tempat tidur. Rupanya ia terluka dan pingsan, ditemukan pasukan AS dan ditawan di kapal rumah sakit yang membuang sauh di dekat pantai Saipan.

Pasukan Marinir bertempur dari rumah ke rumah untuk membersihkan prajurit Jepang 

      Akhirnya pada 9 Juli, pulau itu dinyatakan aman setelah serangan berani mati terakhir itu dapat dipadamkan.
Pada 9 Juli, Marinir dari 4th Division berhasil menguasai pantai utara Saipan 

       Untuk merebut Saipan, korban di pihak AS sebanyak 16.525 prajurit tewas atau terluka. Sedangkan di pihak Jepang sekitar 29.000 yang mati dalam pertempuran selama hampir satu bulan, dari 15 Juni hingga 9 Juli 1944. Bagi AS, direbutnya Saipan berarti kini punya pangkalan aju untuk pesawat pengebom berat strategis Boeing B-29 Superfortress, yang buat pertama kali dioperasikan di Pasifik. Sebelumnya pesawat ini berpangkalan di India dan China, dan sejak pertengahan 1944 mulai menyerang Jepang. Tetapi dengan direbutnya Saipan, maka jarak tempuh untuk menggempur Jepang bertambah dekat dan efektif.
      Sedangkan bagi Jepang, jatuhnya Saipan merupakan pukulan teramat hebat. PM Hideki Tojo sendiri pada 18 Juli terpaksa mengundurkan diri bersama seluruh kabinetnya karena kekalahan tersebut. Ia menyebut hilangnya Saipan merupakan "krisis nasional terbesar yang tidak pernah terjadi sebelumnya." Sebelumnya, tatkala kabar jatuhnya Saipan sampai di Tokyo, penasihat AL untuk Kaisar, Laksamana Osami Nagano menyimpulkan kegetiran semua orang. "Neraka menjatuhi kita semua," ucapnya. Pemerintahan baru di bawah PM Kuniaki Koiso pun berpikir-pikir apakah perang perlu diteruskan atau tidak, sesuatu yang sebelumnya secara resmi tidak pernah terpikirkan! 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar